On several articles ago, we have introduced you to Dea, one of our new Sales Engineers. After her last pivotal visit to PT. Kutai Refinery Nusantara, Dea embarks on a new journey to PT. Indocement. On this visit, Dea’s skills and knowledge as a new sales engineer was put to a test. She delivered an important presentation to several members of PT. Indocement team, introducing PT. Samm Artha Indonesia and what services and products we have to offer to our clients. During our interview, Dea has stated that it was such an incredible and eye-opening journey. This was her first time delivering a presentation to a customer. Challenging, yet exciting — as she put it simply. Let us take a look on what made this visit so special for her.
Di beberapa artikel sebelumnya, kami telah memperkenalkan Dea, salah satu Sales Engineer baru kami. Setelah kunjungan penting terakhirnya ke PT. Kutai Refinery Nusantara, Dea memulai perjalanan barunya di PT. Indocement. Dalam kunjungan ini, keterampilan dan pengetahuan Dea sebagai sales engineer baru diuji. Di sana, ia menyampaikan presentasi penting kepada beberapa anggota tim PT. Indocement, untuk memperkenalkan PT. Samm Artha Indonesia dan layanan serta produk apa saja yang kami tawarkan kepada klien kami. Dalam wawancara kami, Dea menyatakan bahwa perjalanannya kali ini sungguh luar biasa dan membuka mata. Ini adalah pertama kalinya ia menyampaikan presentasi kepada pelanggan. Menantang, namun tetap menyenangkan — begitulah ia mengungkapkannya. Mari kita lihat apa yang membuat kunjungan ini begitu istimewa baginya.
On August 6th, Dea left for the trip at 4 am. Even if it was very early in the morning, Dea left with so much excitement of what was to come. Along the trip to Tarjun, she did non slip a blink. “I was a little sleepy, but I feel like it was something that I could not miss,” Dea stated. This was also the first time for her to try out South Kalimantan local delicacies like the yellow rice with haruan fish. “It tasted different than the usual yellow rice I buy here in Balikpapan. It was very tasty!” Not only the food, she also enjoyed the scenery. Dea expressed that it was very different than the city views she became accustomed to. “It was all green everywhere. It was actually very calming,” she added. After arriving in Tarjun, Dea and our team immediately drive off to PT. Indocement’s guest house. Along the way, she saw one of PT. Indocement’s conveyor systems that goes as far as 24 km. “It was fascinating for me, like an endless conveyor belt. I could only wonder where it began and ended.” After arriving at the guest house, Dea began to unpack her things and get settled in, which was not a problem at all. The guest house was very comfortable, and the food there was also very good — exactly just what she needed after a long trip to Tarjun. After taking a short nap, she woke up and prepare for her presentation tomorrow. “Perhaps it was because I was nervous, and it made me feel better to at least know that I was well prepared.” She kept reading her notes, and practicing until it was time to drift off to sleep again. Tomorrow morning, she woke up at 4 am to get ready. “I guess it was because I was so excited and nervous. I needed to make sure that I get ready on time,” Dea stated when we asked her why she woke up that early. Although Dea took her time with preparing herself and her materials, the presentation had to be delayed until after lunch break. “It just so happened to be PT. Indocement’s anniversary, so we were invited to the celebration and had some good food before the big presentation.” She added that she was getting more nervous, but thankfully, the good food calmed her down. When it was time for her big presentation, she got cold feet again. “I was shaky at first, but as I went on, it became a lot easier for me to present my materials.” This was
her first time delivering a speech, so it was only understandable for her to get so nervous. “I mean, haven’t we all been in that kind of situation?” she added with a chuckle. Her presentation went on smoothly, and a lot better than she expected. She was very thankful for PT. Indocement’s team for being so open-minded and very appreciative of her. “I have to say, my biggest fear of walking into it was to be looked down upon because I’m new in this industry, but I’m still very grateful that the audience was very welcoming. They didn’t mind that I slipped a little bit here and there, and Mr. Fikri was there to help me answer their questions. So, I felt really good after delivering my presentation.”
Pada tanggal 6 Agustus, Dea berangkat untuk perjalanan pukul 4 pagi. Meskipun masih sangat pagi, Dea pergi dengan rasa gembira dan pikiran positif akan apa yang akan dijalaninya. Sepanjang perjalanan ke Tarjun, dia tidak tidur sedikit pun. “Saya sedikit mengantuk, tetapi saya merasa perjalanan ini adalah sesuatu yang tidak bisa saya lewatkan,” kata Dea. Ini juga pertama kalinya baginya untuk mencoba makanan-makanan lokal Kalimantan Selatan seperti nasi kuning dengan ikan haruan. “Rasanya berbeda dari nasi kuning yang biasa saya beli di Balikpapan. Sangat lezat!” Tidak hanya makanannya, dia juga sangat menikmati pemandangannya. Dea berkata bahwa itu sangat berbeda dari pemandangan kota yang biasa dia lihat. “Semuanya hijau di mana-mana. Benar-benar sangat menenangkan,” tambahnya. Setelah tiba di Tarjun, Dea dan tim kami segera berkendara ke guest house PT. Indocement. Di sepanjang jalan, dia melihat salah satu sistem konveyor PT. Indocement yang panjangnya mencapai sejauh 24 km. “Rasanya sungguh menarik bagi saya, seperti belt konveyor yang tak berujung. Saya hanya bisa menerka-nerka di mana ujungnya berawal dan berakhir.” Setelah tiba di wisma, Dea mulai mengeluarkan barang-barangnya dan bersiap-siap untuk beristirahat, yang sama sekali bukan masalah. Guest house-nya sangat nyaman, dan makanannya juga sangat lezat — persis seperti yang ia butuhkan setelah perjalanan panjang ke Tarjun. Setelah tidur siang sebentar, ia bangun dan memepersiapkan diri untuk presentasinya esok hari. “Mungkin karena saya gugup, dan itu membuat saya merasa lebih tenang karena setidaknya tahu bahwa persiapan saya sudah matang.” Ia terus membaca catatannya, dan berlatih hingga tiba waktunya untuk tidur lagi. Besok pagi, ia bangun pukul 4 pagi untuk bersiap-siap. “Saya rasa itu karena saya sangat bersemangat dan gugup. Saya harus memastikan bahwa saya siap tepat waktu,” ujar Dea ketika kami bertanya mengapa ia bangun sepagi itu. Meskipun Dea meluangkan waktu untuk mempersiapkan diri dan materinya, tapi presentasinya terpaksa ditunda hingga setelah istirahat makan siang. “Kebetulan hari itu adalah hari ulang tahun PT. Indocement, jadi kami diundang ke perayaan itu dan menikmati makanan lezat sebelum presentasi besar.” Ia menambahkan bahwa ia semakin gugup, tetapi untungnya, makanan lezat itu membuatnya tenang. Ketika tiba saatnya untuk presentasi besarnya, ia merasa ragu lagi. “Awalnya saya gemetar, tetapi seiring berjalannya presentasi, lama-lama menjadi jauh lebih mudah bagi saya untuk menyampaikan materi saya.” Ini adalah pertama kalinya ia memberikan presentasi di depan customer, jadi wajar saja jika ia merasa gugup. “Maksud saya, bukankah kita semua pernah berada dalam situasi seperti itu?” tambahnya sambil terkekeh. Presentasinya berjalan lancar, dan jauh lebih baik dari yang ia harapkan. Ia sangat berterima kasih kepada tim PT. Indocement yang begitu berpikiran terbuka dan sangat menghargainya. “Harus saya akui, ketakutan terbesar saya saat masuk ke acara ini adalah dipandang rendah karena saya masih baru di industri ini, tetapi saya tetap bersyukur para hadirin sangat ramah. Mereka tidak keberatan jika saya sedikit salah bicara, dan Pak Fikri hadir untuk membantu saya menjawab pertanyaan mereka. Jadi, saya merasa sangat senang setelah menyampaikan presentasi saya.”
When we asked her about what knowledge she took away from this experience, she said the most important one is to relax. She said, “If you’re in your head too much, everything that you learned will fly out the window. So, it was important for me to take a deep breath and present my materials with ease without losing my integrity,” she added confidently. She also learned the importance of dealing with audience. Although she was very thankful for the openness of PT. Indocement’s team, she realized that not every company she will visit in the future will be as open. “People would want to ask hard questions, and I definitely cannot tell them not to ask questions, right? So, I think it is important for me to deepen my knowledge more and to always be prepared.” All in all, it was a short and sweet visit for her. She enjoyed everything, and gladly take the joy with her as she rode back home with our team. To close this article, here is a quote from Dea about her visit, “It was truly something unforgettable. I cannot wait to visit more companies and meet more customers.”
Ketika kami bertanya kepadanya tentang ilmu apa yang ia peroleh dari pengalaman ini, ia mengatakan yang terpenting adalah rileks. Ia berkata, “Kalau terlalu banyak berpikir, semua yang dipelajari akan hilang seketika. Jadi, penting bagi saya untuk menarik napas dalam-dalam dan menyampaikan materi dengan santai tanpa mengurangi integritas saya,” tambahnya dengan percaya diri. Ia juga belajar pentingnya berinteraksi dengan audiens. Meskipun ia sangat berterima kasih atas keterbukaan tim PT. Indocement, ia menyadari bahwa tidak semua perusahaan yang akan dikunjunginya di masa mendatang akan seterbuka itu. “Orang-orang pasti ingin bertanya hal-hal yang sulit, dan saya tentu tidak bisa melarang mereka bertanya, kan? Jadi, saya rasa penting bagi saya untuk memperdalam ilmu dan selalu siap.” Secara keseluruhan, kunjungan ini singkat dan berkesan baginya. Ia menikmati semuanya, dan dengan senang hati membawa kegembiraan itu bersamanya saat pulang bersama tim kami. Sebagai penutup artikel ini, berikut kutipan dari Dea tentang kunjungannya, “Sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Saya tidak sabar untuk mengunjungi lebih banyak perusahaan dan bertemu lebih banyak pelanggan.”
